Minggu, 13 September 2015

Materi Agama kls 5



PELAJARAN SATU


TRI SARIRA


Pengertian dan Bagian-bagian Tri Sarira

a.      Pengertian Tri Sarira

Kata Tri Sarira berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu dari kata Tri dan Sarira. Tri berarti tiga, dan kata Sarira dalam tulisan Sankerta adalah Śarīra temasuk jenis neuter yang berarti; rangka , badan.
Jadi Tri Sarira berarti tiga badan atau tiga lapisan badan manusia yang terbentuk dari unsur, fungsi dan kwalitas berbeda.

b.            Bagian-bagian Tri Sarira
Sesuai dengan arti Tri yang berarti tiga, maka bagian dari Tri Sarira terdiri dari tiga bagian, yaitu:
    1. Stula Sarira atau Raga Sarira atau badan kasar,
    2. Suksma Sarira atau badan halus,
    3. Antakarana Sarira atau badan penyebab yaitu Atman yang menjiwai tubuh manusia.
b.1 Stula Sarira artinya badan kasar yaitu lapisan badan yang paling luar yaitu badan jasmani yang dapat diamati dengan menggunakan Panca Indra. Badan kasar dibentuk dari unsur Panca Maha Bhuta.
Keberadaan Panca Maha Bhuta dimuat dalam Kitab Manawa Dharmasastra Bab I Sloka 6, sebagai berikut:
Tatah svayambhur bhagavan
Avyakto vjanjayannidam,
Mahabhutadi vrttaujah
Pradurasitta monudah

Artinya:
Kemudian dengan kekuatan tapanya Ia Yang Maha Ada menciptakan ini Panca Maha Bhuta/unsur alam manusia  dan lainnya, nyata terlihat, melenyapkan kegelapan.

Panca Maha Bhuta berarti lima unsur atau elemen besar yang terdiri dari:
a.       Unsur Padat atau Pertiwi dalam tubuh manusia akan membentuk tulang, otot, kuku, rambut dan gigi
b.      Unsur Cair atau Apah akan membentuk; darah, lendir, enzim, kelenjar, keringat dan cairan-cairan tubuh lainnya,
c.       Unsur Panas/Cahaya atau Teja akan membentuk suhu tubuh,
d.      Unsur udara/angin atau Bayu akan membentuk tenaga, nafas dan udara lain dalam tubuh,
e.       Unsur kosong atau Akasa/Ether akan membentuk segala rongga di dalam tubuh.
Panca Maha Bhuta berasal dari unsur Panca Tan Matra yaitu lima unsur benih. Panca Tan Matra juga dimuat dalam Kitab Manawa Dharmasastra Bab I Sloka 27, sebagai berikut:
Anvyo matra vinasinyo
Dasarhanam tu yah smrtah,
Tabhih sardham idam sarvam
Sambhavatyanu purvasah.
Artinya:
Dengan mempergunakan lima Matra (unsur yang halus ) yang tak kekal itu Ia susun alam semesta ini menurut hukumnya dengan sempurna.

Panca Tan Matra  meliputi:
a.       Sabda Tan Matra yaitu benih suara,
b.      Sparsa Tan Matra adalah benih rasa sentuhan,
c.       Rupa Tan  Matra yakni benih penglihatan,
d.      Rasa Tan Matra adalah benih rasa,
e.       Gandha Tan Matra adalah benih penciuman.
 Selain Stula Sarira dibentuk dari unsur Panca Tan Matra dan unsur Panca Maha Bhuta, Badan Kasar (Stula Sarira ) kita terdapat lagi enam lapisan pembungkus yang disebut Sad Kosa. Bagian-bagian Sad Kosa yang merupakan lapisan pembungkus yang berjumlah enam, yakni:
a. Asti/Taulan              : tulang,
b. Adwad                     : otot,
c. Sumsum                   : sumsum,
d. Mamsa                    : daging,
e. Rudhira                   : darah,
f. Carma                      : kulit.

b.2 Suksma Sarira atau Lingga Sarira artinya lapisan yang halus tidak dapat dilihat dan diraba oleh alam pikiran kita. Suksama Sarira adalah ingatan. Dalam Bahasa Sanskerta disebut Citta.
Citta adalah hasil dari pengalaman yang merupakan kumpulan dari pengalaman yang telah kita perbuat, dipikirkan, dilihat dan dirasakan selama kita hidup yang membentuk karakter, watak dan budhi seseorang.
Dengan adanya Citta akan menimbulkan Panca Budindria dan Panca Karmendria. Panca Budindria berarti lima indria pengenal. Sedangkan Panca Karmendria berarti lima indria penggerak.
Untuk memudahkan mengingat bagian-bagian Panca Budindria, di bawah ini disajikan dalam Pupuh Ginanti sebagai berikut:

Pupuh Ginanti

Panca Budindria iku,
Caksundria kaping siki,
Srotendria kaping dua,
Granendriane katrini,
Jihwendria kaping empat,
Twakindria lima sami.


Jadi bagian-bagian Panca Budindria, meliputi:
a.       Caksu indria yaitu indria pengenal melalui penglihatan terletak pada mata yang menyebabkan mata bisa melihat,
b.      Srotendria adalah indria pengenal melalui pendengaran terletak pada telinga yang menyebabkan telinga dapat mendengar,
c.       Ghranendria adalah indria pengenal melalui penciuman terletak pada hidung yang menyebabkan hidung dapat mencium sesuatu,
d.      Jihwendria artinya indria pengenal melalui sad rasa terletak pada lidah yang menyebabkan lidah dapat mengecap rasa,
e.       Twakindria artinya indria pengenal melalui sentuhan terletak pada kulit yang menyebabkan kulit dapat merasakan halus atau kasarnya sesuatu.

Bagian-bagian Panca Karmendria disajikan dalam Pupuh Ginanti sebagai berikut:

Pupuh Ginanti

Panindria nomer satu,
Padendria kaping kalih,
Ping tiga Garbhendria,
Upastendria nyarengin ,
Ping lima Payu indria,
Panca Karmendria aranin.

Jadi bagian-bagain Panca Karmendria yang membentuk Suksma Sarira, sebagaimana disebutkan dalam Pupuh di atas meliputi:
a.       Panindria adalah indria penggerak pada tangan yang menyebabkan dapat mengambil dan memegang sesuatu,
b.      Padendria artinya indria penggerak pada kaki yang menyebabkan dapat berjalan,
c.       Garbhendria artinya indria penggerak pada perut yang menyebabkan dapat merasakan lapar dan kenyang,
d.      Upasthendria artinya indria penggerak pada pada kemaluan laki-laki, Bhagendria artinya indria penggerak pada kemaluan perempuan menyebabkan bisa mengeluarkan Sukla atau benih laki-laki dan Swanita yaitu benih perempuan.
e.       Payuindria artinya indria penggerak pada dubur atau pantat yang menyebabkan dapat membuang kotoran atau gas.
Gabungan antara Panca Budhindriya dan Panca Karmendria disebut Dasendriya. Dasendriya berada pada alam pikiran yang saling mempengaruhi gerak pikiran manusia.
Suksma Sarira terjadi dari Budhi, Manah dan Ahamkara yang disebut Tri Antakarana atau tiga penyebab akhir, meliputi:
a.       Buddhi yaitu kesadaran atau kebijaksanaan dan intuisi berfungsi untuk menentukan keputusan,
b.      Manah yaitu akal pikiran yang berfungsi untuk berpikir, dan
c.       Ahamkara yaitu keakuan atau ego yang berfungsi untuk merasakan dan bertindak.
Ingatan juga dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas.
a.       Bila ingatan dipengaruhi oleh guna Sattwam maka seseorang akan selalu berbuat jujur, adil, bijaksana dan tidak mementingkan diri sendiri,
b.      Bila ingatan dipengaruhi oleh guna Rajas maka seseorang akan menjadi kasar, serakah, ambisi dan  mementingkan dirinya sendiri,
c.       Bila ingatan dipengaruhi oleh guna Tamas, maka seseorang akan menjadi malas, acuh tak acuh, makan dan tidur saja.
 Sebagai sebuah contoh dapat digambarkan keadaan Suksma Sarira itu seperti kita mempunyai perasaan yaitu perasaan kecewa-puas, senang-sedih, cinta-benci, kagum, hormat, kepahlawanan, jijik dan sebagainya. Semua itu tidak dapat diamati tetapi yang terlihat hanyalah gejalanya berupa ekspresinya. Misalnya orang yang sedang senang, perasaan senangnya tidak dapat diamati tetapi ciri-cirinya seperti wajahnya berseri-seri disertai senyum. Bagaimana wujud indria juga tidak dapat kita ketahui tetapi ada di dalam diri kita.

b.3 Antakarana Sarira adalah lapisan yang paling halus yaitu badan penyebab. Yang menjadi badan penyebab adalah Atman yang menjiwai tubuh kita. Atma paling berkuasa dalam tubuh kita. Atma yang mentukan gerak pikiran dan tingkah laku manusia. Tubuh merupakan alat dari pikiran.

Hubungan Tri Sarira
Tubuh manusia yang terdiri dari tiga lapisan kalau diibaratkan adalah seperti sebuah kereta yang ditarik oleh kuda, ada kusirnya dan ada penumpangnya. Maka dapat digambarkan tubuh manusia berdasarkan perumpamaan ini adalah:
-          Kereta adalah tubuh manusia ( Stula Sarira ),
-          Kusirnya adalah ingatan ( Suksma Sarira) yang menggerakkan kereta. Sehingga gerakan kereta dipengaruhi oleh watak kusirnya, jika watak kusirnya baik maka kereta akan berjalan dengan tenang dan hati-hati,
-          Antakarananya adalah penumpang karena penumpanglah yang menentukan arah tujuan dari kereta itu.
Jadi Stula Sarira adalah alat dari pikiran, Suksma Sarira adalah sebagai pelaksana atau yang menggerakkan, sedangkan Antakarana Sarira adalah yang menentukan arah gerak itu.




c.  Fungsi Tri Sarira

Tri Sarira merupakan tiga lapisan badan yang memiliki kwalitas yang berbeda tetapi memiliki hubungan yang sangat erat antara lapisan satu dengan lapisan yang lain. Artinya antara Stula Sarira dengan Suksma Sarira dan Antakarana Sarira sudah tentu berbeda teapi ketiganya tidak bisa dipisahkan. Manusia tidak mungkin hidup apabila tidak ada Suksma Sarira, demikian pula sebaliknya.
Sebagai sebuah contoh; mata berfungsi sebagai alat bantu melihat alam atau obyek tertentu, sehingga kita dapat membedakan indah dan tidak indah, aneka warna, bersih atau kotor, pada saat melamun pikiran kita melayang ke obyek yang kita lamunkan, sehingga orang yang lewat di depan kita tidak kita lihat. Artinya mata bisa melihat dan membedakan sesuatu jika telah bekerjasama dengan pikiran dan kerjasama itu kita dapat menikmati kehidupan ini.
Ketiga lapisan tubuh manusia akan berfungsi apabila manusia masih hidup atau Jiwatman masih bersemayam dalam diri.
Jadi kalau dirinci fungsi dari Tri Sarira adalah:
a.       Stula Sarira berfungsi sebagai tempat bersemayamnya Suksma Sarira dan Antakarana Sarira sehingga badan memiliki Jiwa,
b.      Sukma Sarira  berfungsi sebagai pemberi pikiran, kesadaran, kebijaksanaan, intuisi, akal pikiran yang sifatnya tidak dapat dilihat atau diamati,
c.       Antakarana Sarira berfungsi sebagai penentu arah gerak hidup manusia, yaitu menentukan arah gerak Stula Sarira atau badan Kasar dan Suksma Sarira atau badan halus.



PELAJARAN DUA


SEJARAH AGAMA HINDU

2.1 Kerajaan Hindu di Indonesia Sebelum Kemerdekaan

Tonggak perkembangan agama Hindu di Indonesia dimulai sejak abad ke empat masehi. Mulai abad ini Indonesia mulai memasuki jaman sejarah dan mengenal sistem kerajaan yang beragama Hindu.
Informasi  tentang kedatangan Agama Hindu ke Indonesia ada beberapa pendapat yang mengatakan:
a.             Pendapat pertama; masuknya agama Hindu berdasarkan nama-nama tempat yang disebut-sebut dalam Kitab Ramayana, seperti; Jawa Dwipa (sebutan untuk Pulau Jawa), Swarna Dwipa (sebutan untuk Pulau Sumatra) dan Sisira Parwata (gunung bersalju yaitu gunung tertinggi di Irian Jaya yang sekarang bernama Jaya Wijaya ). Berdasarkan atas nama-nama di atas diperkirakan agama Hindu telah masuk ke Indonesia pada jaman Itihasa Ramayana,
b.            Pendapat kedua mengatakan; masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh petualang-petualang India yang gagah berani,
c.             Pendapat ketiga; berpendapat bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh para pedagang yang mengadakan hubungan perdagangan dari India ke Indonesia,
d.            Pendapat keempat mengatakan bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh para Pendeta yang berasal dari India,
e.             Pendapat kelima mengatakan bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri yang datang ke India untuk belajar agama Hindu, sepulangnya dari India orang Indonesia mengajarkan agama Hindu di Indonesia.

2.1.a Kerajaan Hindu di Kutai
Sebelum menguraikan perkembangan agama Hindu di Kutai ada baiknya kita tembangkan sebuah Pupuh Maskumambang yang memuat intisari Sejarah Agama Hindu di Kutai sebagai berikut:
Pupuh Kumambang
Mulawarman Raja Hindune di Kutai
Muja Dewa Siwa,
Pitu Yupane kapanggih,
Liannya Waprakeswara.

Daerah Kutai memiliki sejarah yang besar dimana pada jaman dahulu sekitar tahun 400 Masehi atau abad IV di daerah Kutai di Tepi Sungai Mahakam Kalimantan Timur pernah berdiri Kerajaan Hindu Pertama yaitu Kerajaan Kutai.
 Tentang keberadaan Kerajaan Kutai dapat dibuktikan dengan diketemukannya Yupa Yupa adalah batu berdiri berbentuk tiang dan bertulis yang digunakan dalam Uapacara Agama.  Yupa ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta. Jumlah Yupa yang ditemukan di Kutai sebanyak 7 buah dan salah satunya menyebutkan bahwa nama Kudungga berputra Aswawarman. Dan Aswawarman berputra tiga orang putra yang tertua bernama Mulawarman.
Disebutkan dalam Yupa bahwa Mulawarman sebagai raja yang sangat bijaksana, kuat dan berkuasa. Pada jamannya Mulawarman menjadi Raja di Kutai Beliau telah melaksanakan Yadnya. Para Brahmana pada jaman itu mendirikan Yupa untuk peringatan Yadnya itu. Pada Yupa yang lain juga disebutkan bahwa raja Mulawarman telah menghadiahkan 80.000 ekor sapi kepada para Brahmana, bertempat di lapangan suci Waprakeswara yaitu lapangan yang sangat luas sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Siwa

2.1.b Kerajaan Hindu di Jawa Barat
Perkembangan agama Hindu di Pulau Jawa diawali dari Jawa Barat. Keberadaan agama Hindu di Jawa Barat diperkirakan telah dimulai pada pertengahan abad ke-5 ditandai dengan munculnya/berdirinya Kerajaan Hindu yang bernama Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya bernama Purnawarman.
Bukti-bukti bahwa di Jawa Barat pernah berdiri Kerajaan Taruma Negara adalah dengan diketemukannya Saila Prasasti. Dan di daerah Cibuaya ditemukan Arca Wisnu yang memperkuat pembuktian bahwa di Jawa Barat pernah berkembang agama Hindu secara pesat. Saila Prasasti adalah prasasti yang terbuat atau ditulis di atas batu yang jumlahnya sebanyak 7 buah.
Yang termasuk dalam Saila Prasasti meliputi:
a.      Prasasti Ciaruteun,
b.      Prasasti Tugu,
c.       Prasasti Kebon Kopi,
d.      Prasasti Pasir Awi,
e.       Prasasti Muara Cianten,
f.       Prasasti Lebak, dan
g.      Prasasti Jambu.

Isi Prasasti:
a.      Prasati Ciaruteun  menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta  yang berbentuk syair yang memberikan keterangan tentang kerajaan Tarumanegara. Isinya; “Inilah bekas dua kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki Yang Mulia Mulawarman Raja yang gagah berani di dunia”.
b.      Prasasti Tugu menguraikan tentang Raja Purnawarman dalam tahun pemerintahannya yang ke-22 menggali sungai Gomati dalam waktu 21 hari dengan panjang 12 km, di samping sungai yang sudah ada yaitu sungai Chandrabhaga ( Bekasi ). Pekerjaan menggali sungai diakhiri dengan menghadiahkan 2000 (dua ribu) ekor lembu kepada Brahmana.
Selain Kerajaan Taruma Negara di wilayah Jawa Barat, juga pernah berdiri kerajaan Hindu yang sangat terkenal sampai sekarang dan diabadikan menjadi nama salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung yaitu Kerajaan Padjajaran. Kerajaan Padjajaran mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan  Prabhu Siliwangi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Prabhu Siliwangi moksa di Gunung Salak, Desa Taman Sari Bogor Jawa Barat. Di dalam Pura tersebut ada sebuah pelinggih (candi) yang merupakan tempat khusus untuk memuja Prabhu Siliwangi.

2.1.c Kerajaan Hindu di Jawa Tengah
Agama Hindu memahami dan mengadakan pemujaan terhadap Dewa Tri Murti. Pemujaan terhadap Dewa Tri Murti sudah dimulai sejak perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah pernah berdiri sebuah kerajaan Hindu yang bernama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang Kemulan.
Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa di Jawa Tengah pernah berdiri sebuah kerajaan Hindu dibuktikan dengan:
1.            Diketemukannya Prasasti Tuk Mas di Lereng Gunung Merbabu.  Prasasti Tuk Mas menggunakan angka tahun 650 Masehi.
 Isi dari Prasasti Tuk Mas adalah:
-          berisi pujian kepada Sungai Gangga,
-          berisi atribut Dewa Tri Murti seperti: Tri Sula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai.
2.            Diketemukannya Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Prasasti Canggal memakai huruf Pallawa berbahasa Sanskerta menggunakan angka tahun Candra Sangkala yaitu angka tahun dengan menggunakan kata-kata yang berbunyi “ Sruti Indria rasa” yang artinya:
-          Sruti artinya 4 ( Catur Weda Sruti),
-          Indria artinya 5 ( Panca Indria)
-          Rasa artinya 6 ( Sad Rasa)
Jadi  sama artinya  dengan tahun 654 Saka atau 732 Masehi.
Isi Prasasti Canggal adalah:
-  Terdiri dari 12 pada atau 12 bait syair yang isinya memuat tentang pendirian lingga dan pemujaan kepada Dewa Tri Murti
3.            Terdapat peninggalan Candi yang bernama Candi Prambanan yang merupakan Candi Hindu terbesar di Jawa Tengah. Candi Prambanan disebut juga dengan nama Candi Loro Jonggrang. Menurut Prasasti Siwagreha: Candi Prambanan didirikan oleh salah satu dari Dinasti Sanjaya yakni Rakai Pikatan,
4.            Diketemukannya Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Sri Kandi, Candi Sinta dan Candi Sambisari di pegunungan Dieng.

2.1.d Kerajaan Hindu di Jawa Timur
a   Kanjuruhan
Awal perkembangan Agama Hindu di Jawa Timur dimulai dari Kota Malang Jawa Timur dengan diketemukannya sebuah Prasasti yang bernama Prasasti Dinoyo. Prasasti Dinoyo bertuliskan angka tahun 760 Masehi.  Isi Prasasti Dinoyo adalah:
1.      Terdapat kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan dengan rajanya bernama Dewa Simha, Dewa Simha adalah Raja yang menganut agama Hindu dengan memusatkan pemujaan kepada Dewa Siwa.
2.      Tentang pembuatan arca Maharsi Agastya yaitu sebuah arca yang berwujud Resi Agastya sebagai penghormatan atas jasanya menyebarkan dan mengajarkan Agama Hindu dari India ke Indonesia ( Nusantara ).
Dewa Simha berputra seorang yang bernama Liswa. Setelah dilantik menjadi raja, Liswa bergelar Gajayana. Liswa mempunyai seorang putri yang bernama Uttejana. Raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Rsi Agastya yang terbuat dari kayu cendana kemudian diganti dengan arca dari Batu Hitam. Arca Agastya diresmikan tahun 760 Masehi.

b.      Isana Wamsa/Empu Sendok
Stelah Raja Dewa Simha yang menganut agama Hindu, perkembangan Agama Hindu selanjutnya di Jawa Timur disusul dengan munculnya Dinasti Isana Wamsa. Yang menjadi pendiri adalah Empu Sendok. Empu Sendok sangat memuliakan Dewa Siwa. Mpu Sendok memerintah pada tahun 929-974 Masehi dengan gelar “Sri Isana Tunggadewa Wijaya

c.       Dharmawangsa Teguh
Raja Darmawangsa Teguh dalam masa pemerintahannya sangat memperhatikan perkembangan karya-karya sastra. Pada masa pemerintahan Darmawangsa Teguh, karya sastra besar dari India yaitu Ramayana dan Mahabharata dikaji oleh ahli-ahli sastra (pengawi) di Indonesia selanjutnya digubah dari yang dahulunya berbahasa Sanskerta digubah menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Yang memprakarsai kegiatan menggubah karya sastra hasil karya Bhagawan Byasa menjadi karya yang berbahasa Jawa Kuno diistilahkan dengan “ Mangjawaken Byasa Katha” yang artinya mermbahasa Jawakan karya-karya Bhagawan Byasa dan karya Bhagawan Walmiki yang dulunya berbahasa Sanskerta.

d.            Prabhu Airlangga
Setelah Raja Darmawangsa Teguh berkuasa dilanjutkan lagi perkembangan agama Hindu di Jawa Timur dengan munculnya Prabhu Airlangga. Pada masa pemerintahan Prabhu Airlangga di Jawa Timur selalu memberikan kemakmuran kepada dunia. Atas jasa yang dilakukan oleh Prabhu Airlangga maka Prabhu Airlangga diarcakan (dibuatkan arca yang menggambarkan Prabhu Airlangga) dalam wujud Garuda Wisnu yaitu Wisnu mengendarai Garuda.

e.             Kerajaan Kediri
Pada masa kerajaan Kediri yang juga menganut agama Hindu, banyak muncul karya sastra pada masa itu. Pengawi/pengarang yang sangat terkenal pada masa jayanya Kerajaan Kediri adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh yang mengarang karya besar yang berjudul Kakawin Bharatayudha.

f. Kerajaan Singosari
Setelah Kerajaan Kediri runtuh, muncul lagi Kerajaan yang bercorak Hindu adalah Kerajaan Singosari pada tahun 1222 Masehi . Kerajaan Singosari didirikan oleh Ken Arok.  Ken Arok sebagai Raja di Kerajaan Singosari pada masa pemerintahannya didampingi oleh para Purohita. Purohita berarti pendeta penasehat Raja.
Pada jaman Kerajaan Singosari banyak dibangun bangunan suci Hindu berupa candi seperti:
a.      Candi Kidal,
b.      Candi Jago, dan
c.       Candi Singosari.

g. Kerajaan Majapahit
Setelah runtuhnya Kerajaan Singosari, pada tahun 1293 muncullah kerajaan Majapahit. Pada jaman Kerajaan Majapahit, kehidupan beragama Hindu sangat mantap berkat pembinaan dari pendeta yang mendampingi raja dalam menjalankan pemerintahan. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit yakni pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Pada masa itu wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencakup seluruh Nusantara bahkan sampai ke Brunei Darussalam, Serawak, Kamboja dan Malaysya. Raja Hayam Wuruk pada masa pemerintahannya didampingi oleh Maha Patih Gajah Mada. Gajah Mada adalah Maha Patih yang gagah berani dan kuat yang terkenal dengan Sumpah Palapa yang bertujuan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan lain agar mau tunduk kepada kekuasan Raja Majapahit. Sumpah Palapa dilaksanakan oleh Gajah Mada selama 21 tahun yakni antara tahun Saka 1258 sampai 1279 Saka.
Isi Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada, sebagai berikut:
Lamun huwus kalah Nusantara insun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, Ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti Palapa.

Artinya:

Kalau sudah kalah Nusantara Hamba memakan Kelapa, kalau kalah di Gurun=Lombok, di Seran=Seram, Tanjung Pura=Kalimantan, di Haru=Sumatra Utara, di Pahang=Malaya, Dompo=Dompu/Sumbawa, di Bali, di Sunda, Palembang (Sriwijaya), Tumasik=Singapura semuanya itu baru Hamba akan memakan Kelapa.

 Hasil dari Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada terbukti yaitu Bali dapat ditaklukkan pada tahun 1265, Dompu dan Pasunda dapat ditaklukkan pada tahun 1279 Saka atau 1375 Masehi.
Selain dapat menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara bahkan sampai ke Malaysya, Singapura, pada masa kejayaan Raja Hayam Wuruk banyak karya sastra Hindu yang fundamental digubah pada masa itu, misalnya:
a.       Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular,
b.      Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa,
c.       Kitab Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca, dan
d.      Didirikannya Candi Besar yaitu Candi Penataran di Blitar.

2.1.e Kerajaan Hindu di Bali
a.      Sri Kesari Warmadewa
Di Bali terdapat sebuah kerajaan yang menganut agama Hindu yang diperkiran sudah muncul pada abad ke-8. . Hal ini dapat diketahui dengan diketemukannya sebuah Prasasti Blanjong. Prasasti Blanjong tersimpan di sebuah Pura yang bernama Pura Blanjong yang terletak di Blanjong daerah Sanur. Prasasti Blanjong berbentuk Silinder ( bulat panjang ) yang berisi tulisan Bali Kuno dan berbahasa Sanskerta. Dalam Prasasti Blanjong dijelaskan bahwa nama Raja Bali waktu itu bergelar Warmadewa. Rajanya bernama Sri Kesari Warmadewa dengan pusat pemerintahannya berada di Singhamandawa. Nama Warmadewa mulai muncul pada tahun 835 Saka.
Selain itu diketemukan juga cap-cap kecil yang tersimpan di dalam stupa yang terbuat dari tanah liat bertuliskan mantra Budha yang disebut Ye Te Mantra.

b. Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi
Setelah raja Sri Kesari Warmadewa, di Bali pada tahun 905 Saka atau 983 Masehi muncul seorang raja yang menganut agama Hindu. Raja tersebut adalah raja perempuan (ratu) yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi.

c. Udayana Mahadewa
Setelah pemerintahan Sriwijaya Mahadewi muncul nama raja Udayana Warmadewa yang didampingi oleh permaisurinya bernama Sri Gunapriya Dharmapatni.
Raja Udayana memiliki putra bernama Marakata dan Anak Wungsu. Marakata menggantikan Udayana Warmadewa sebagai raja di Bali.



d.      Anak Wungsu
Anak Wungsu adalah anak dari raja Udayana Warmadewa. Anak Wungsu adalah raja yang paling aktif mencatat peristiwa penting dalam pemerintahannya sehingga Raja Anak Wungsulah yang paling banyak mengeluarkan prasasti.
Raja Anak Wungsu memerintah di Bali pada tahun 971-999 Saka atau 1049 –1077 Masehi.
Salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu berangka tahun 944 Saka atau 1022 Masehi, dalam prasasti itu memuat Sapata atau kata-kata sumpah yang menyebut nama-nama Dewa Hindu. Adapun isi Sapata itu, seperti: bahwa rakyat Bali percaya dengan Dewa-dewa dan Maharsi seperti percaya dengan Maharsi Agastya.
Selanjutnya ada sebuah prasasti lagi yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu yang berangka tahun 993 Saka atau 1070 Masehi memuat Sapata yang berbunyi “ untuk Hyang Angasti Maharsi dan Para Dewa yang lainnya”. Yang dimaksud Angasti Maharsi dalam prasasti yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu adalah Maharsi Agastya.



e.       Raja Bedahulu
Perkembangan agama Hindu di Bali selanjutnya dipengaruhi dengan munculnya Raja Bedahulu. Raja Bedahulu sangat melegenda di Bali sebagai raja yang ditakuti rakyatnya. Pada masa pemerintahan Raja Bedahulu, rakyat tidak boleh memandang muka atau kepala raja. Sehingga apabila menghadap harus menunduk.
Raja Bedahulu adalah raja Bali yang terakhir memerintah Bali. Dan pada  tahun 1259 Saka atau 1337 Masehi raja Bedahulu bergelar Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten.
Setelah enam tahun memerintah Bali, pada tahun 1265 Saka atau 1343 Masehi, Raja Bedahulu dapat ditaklukkan oleh Gajah Mada sebagai wujud Sumpah Palapanya. Dan mulai saat itu Bali menjadi daerah kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

f.       Sri Kresna Kepakisan
Setelah Raja Bedahulu dapat ditaklukkan oleh Gajah Mada dan Bali menjadi daerah kekuasaan Majapahit, pemerintahan di Bali dilanjutkan oleh Sri Kresna Kepakisan. Oleh raja Sri Kresna Kepakisan pusat pemerintahan atau kerajaan yang dulunya berada di Samprangan Gianyar dipindahkan ke Gelgel dekat Pura Gelgel Kelungkung.

g.      Dalem Waturenggong
Setelah pemerintahan Sri Kresna Kepakisan, dilanjutkan oleh Raja Dalem Waturenggong. Pusat pemerintahan masih di Gelgel. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Bali mengalami masa keemasan. Agama Hindu berkembang dengan pesat karena aspek keagamaan ditata kembali oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Purohita.
Peninggalan Hindu terbesar pada jaman Dalem Waturenggong adalah dengan ditatanya kembali Pura Besakih yang merupakan tempat pemujaan umat Hindu di seluruh Dunia.

2.3 Peninggalan-peninggalan Kerajaan Hindu di Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Peninggalan Kerajaan Hindu sebelum Kemerdekaan akan diklasifikasikan sebagai berikut:
a.      Masa Pemerintahan Kerajaan Kutai:
-          diketemukannya Yupa sebanyak 7 buah.
b.      Masa Pemerintahan Kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, berupa:
-          diketemukannya 7 buah prasati batu yang disebut Saila Prasasti,  yang terdiri dari:
a.      Prasasti Ciaruteun,
b.      Prasasti Tugu,
c.       Prasasti Kebon Kopi,
d.      Prasasti Pasir Awi,
e.       Prasasti Muara Cianten,
f.       Prasasti Lebak, dan
g.      Prasasti Jambu.
c.       Peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Tengah, meliputi:
1.      Prasasti, yang meliputi Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal,
2.      Bangunan Suci, meliputi: Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang.
d.      Peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Timur, meliputi:
1.      Arca, seperti arca Garuda Wisnu, Arca Rsi Agastya dan Patung Kepala Gajah Mada,
2.      Bangunan Suci berupa Candi Penataran
3.      Karya Sastra, meliputi:
a.       Kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh,
b.      Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular,
c.       Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa.
e.       Peninggalan Kerajaan Hindu di Bali, meliputi:
1.      Arca berupa perwujudan Maharsi Agastya,
2.      Prasasti yaitu Prasasti Blanjong Sanur,
3.      Cap-cap kecil yang berisi mantra-mantra Budha,
4.      Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Marakata dan Anak Wungsu yang berisi sapata yang menyebutkan Dewa-dewa Hindu dan Maharsi Agastya,
5.      Bangunan Suci seperti: Pura Sad Kahyangan, Pura Dang Kahyangan dan Pura Besakih,
6.      Peninggalan berupa Candi yakni Candi tebing yang bernama Candi Gunung Kawi.





PELAJARAN TIGA
PANCA YADNYA
Arti Panca Yadnya
Kata Panca Yadnya terdiri dari dua kata, yaitu kata Panca dan Yadnya. Panca berarti Lima, Yadnya berarti persembahan suci. Kata Yadnya berasal dari Bahasa Sanskerta dari urat kata Yāj dan masuk dalam kelas kata maskulinum yang berarti orang yang berkorban.
Jadi Panca Yadnya berarti lima persembahan suci dengan tulus ikhlas.
Dalam melaksanakan sebuah Yadnya hendaknya diketahui syarat-syarat Yadnya. Adapun syarat-syarat sebuah yadnya, meliputi:
a.       Harus dilandasi dengan keikhlasan yang disertai kesucian hati,
b.      Didasari dengan cinta kasih yang diwujudkan dengan rasa bhakti yang tulus, cinta kepada sesama, cinta kepada binatang dan cinta kepada lingkungan,
c.       Yang harus dilakukan sesuai kemampuan agar tidak menjadi beban bgi kita,
d.      Beryadnya harus dilandasi perasaan beryadnya sebagai sebuah kewajiban.

Jenis-jenis Panca Yadnya
Sebelum membahas jenis-jenis Panca Yadnya dan penjelasannya, akan dijelaskan terlebih dahulu latar belakang munculnya Yadnya. Pada setiap manusia yang terlahir ke dunia ini sudah membawa hutang yang jumlahnya tiga yang disebut Tri Rna. Tentang Tri Rna dimuat dalam Kitab Manawa Dharmasastra VI.35, sebagai berikut:

Rinani trinyapakritya manomok-
Se niwecayet
Anapakritya moksam tu sewama-
No wrajatyadhah

Artinya:
Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya ( kepada Tuhan, kepada Leluhur dan kepada Orangtua), hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk memcapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir itu tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam ke bawah.

Tiga macam hutang yang dibawa sejak lahir, seperti:
a.             Dewa Rna yaitu hutang kepada para Dewa/Ida Sang Hyang Widhi karena telah menciptakan  dan memberikan kita hidup,
b.            Pitra Rna yaitu hutang kepada Leluhur baik yang sudah meninggal maupun orangtua yang masih hidup. Kita berhutang kepada leluhur karena Beliau telah menghidupi kita, merawat, mendidik, mengasuh dari sejak dalam kandungan sampai menjadi manusia dewasa, dan
c.             Rsi Rna yaitu hutang kepada para Resi pendahulu kita yang telah menerima wahyu Tuhan berupa Weda sehingga kita memahami ajaran agama maupun kepada para sulinggih yang telah menyucikan hidup kita.
Karena adanya hutang inilah dalam ajaran agama Hindu diharapkan dapat dibayar dengan melaksanakan Panca Yadnya. Bagian Panca Yadnya terdiri dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa yadnya dan Bhuta Yadnya.
Maka Dewa Rna dibayar dengan Dewa yadnya dan Bhuta yadnya, Pitra Rna dibayar dengan Pitra yadnya dan Manusa yadnya, terakhir Rsi Yadnya digunakan untuk membayar Rsi Rna.
Untuk lebih memahami Tri Rna dan Panca Yadnya, disajikan 2 Pupuh Kumambang seperti di bawah ini:
Pupuh Kumambang
1. Teri Rena tetiga utange sami,
    Siki Dewa Rena,
    Pitra Rena kaping kalih,
    Resi Rena nomer tiga.

2. Ngiring taur utange punika sami,
    Srana Panca Yadnya,
    Ring Dewa Pitara Resi,
    Ring Manusa Miwah Bhuta.
Dari pupuh di atas dapat kita rinci bagian Panca Yadnya meliputi:
1.            Dewa Yadnya adalah persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa. Yadnya kepada Ida Sang Hyang Widhi dapat dilakukan setiap hari , juga dapat dilakukan dengan cara berkala. Seperti dengan melaksanakan:
e.       Tri Sandhya setiap hari,
f.       melaksanakan upacara pada hari Purnama, Tilem, piodalan di Pura, Siwaratri, Saraswati, Galungan, Kuningan.
Tujuan melaksanakan Dewa Yadnya adalah:
g.      untuk mengucapkan terima kasih,
h.      memohon agar dijauhkan dari mara bahaya,
i.        memohon pengampunan,
j.        memohon anugrah kepada Ida Sang Hyang Widhi dan manifestasi-Nya.
2.            Pitra yadnya adalah persembahan kepada para leluhur dan Bhetara-bhetari. Pelaksanaan Pitra Yadnya dapat dilakukan dengan:
a.      menunjukkan prilaku yang luhur dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud bakti kepada leluhur yang masih hidup,
b.      melakukan upacara kematian terhadap leluhur yang telah meninggal dapat dilakukan dengan dua cara, meliputi; upacara penguburan mayat dan upacara pembakaran mayat. Upacara penguburan dan pembakaran mayat disebut dengan nama Upacara Ngaben.
Upacara Ngaben dalam pelaksanaannya terdiri dari dua tahap yaitu:
a.             Sawa Wedana yaitu upacara pembakaran/penguburan badan kasar sebagai simbul atau makna mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya.
b.            Atma Wedana yaitu upacara pembakaran/penguburan tahap kedua yaitu pembakaran badan halus (Suksma Sarira) yang disimbulkan dengan Sekah atau Puspa. Upacara ini lebih dikenal dengan nama Nyekah, Mamaukur, Ngasti, Maligia dan Ngeroras.
Tujuan Upacara Atma Wedana adalah untuk meningkatkan status roh leluhur menjadi Dewa Hyang.

3.            Rsi Yadnya adalah persembahan kepada para Resi atau guru yang telah memberikan penyucian. Yang tergolong ke dalam Rsi Yadnya adalah:
a.       Upacara Eka Jati atau Mewinten yaitu upacara pengukuhan seseorang menjadi Pinandita atau Pemangku. Tugas dan kewenangan Eka Jati seperti:
-          bertanggung jawab pada pura dimana tempat orang di winten,
-          menyelesaikan upacara di lingkungan masyarakat sekitar.
b.      Upacara Dwi Jati  atau Mediksa yaitu upacara pengukuhan seseorang menjadi Pendeta atau sulinggih dengan kewenangan Ngloka pala sraya yang berarti tempat bagi masyarakat untuk memohon bantuan petunjuk agama.
Kewenangan seseorang yang sudah Dwi Jati, adalah:
-          menyelesaikan/muput suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat,
-          memberikan pencerahan, pembinaan tentang ajaran agama dan bagaimana mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari kepada umat,
-          berhak mendapatkan Daksina,
-          berhak mendapatkan punia dan menerima Resi Bojana.
4.            Manusa Yadnya adalah persembahan untuk kesucian lahir batin Manusia. Contoh-contoh pelaksanaan yadnya yang termasuk Manusa Yadnya, seperti:
a.             Upacara Bayi dalam kandungan (Garbha Wadana/pagedong-gedongan).
b.            Upacara bayi baru lahir,
c.             Upacara kepus puser,
d.            Upacara bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan),
e.             Upacara bayi berumur 105 hari (Nyambutin)
f.             Upacara bayi satu oton ( otonan),
g.            Upacara meningkat remaja ( yang laki disebut Ngraja Singa, yang wanita disebut Ngraja Sewala),
h.            Upacara potong gigi ( matatah, mapandes, masangih),
i.              Upacara perkawinan (wiwaha)

5.            Bhuta Yadnya adalah persembahan kepada  para Bhuta kala dan makhluk bawahan. Yang termasuk pelaksanaan Bhuta Yadnya, seperti:
a.      Upacara Mecaru,
b.      Ngaturang Segehan,
c.       Upacara Taur
d.      Upacara Panca Wali Krama (dilaksanakan setiap 10 tahun sekali di Pura Agung Besakih)
e.       Upacara Eka Dasa Rudra (dilaksanakan setiap 100 tahun sekali di Pura Agung Besakih).

Pelaksanaan Panca Yadnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam pelaksanaan sebuah Yadnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya dalam melaksanakan satu Yadnya pasti yadnya yang lain dilaksanakan juga. Contohnya kita melaksanakan Dewa Yadnya seperti odalan di Pura.  Odalan di Pura termasuk Dewa Yadnya. Dalam rangkaian upacara odalan di Pura diisi juga dengan upacara mecaru. Mecaru adalah pelaksanaan Bhuta Yadnya.
Jadi dalam Upacara Dewa Yadnya diisi juga dengan melaksanakan Bhuta Yadnya.  Demikian juga yadnya yang lainnya.

1. Contoh-contoh pelaksanaan Dewa yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a.       Melakukan Tri Sandya tiga kali dalam sehari,
b.      Selalu berdoa sebelum melakukan kegiatan,
c.       Memelihara kebersihan tempat suci,
d.      Mempelajari dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,
e.       Melaksanakaan persembahyangan pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, dll.

1.            Contoh-contoh pelaksanaan Pitra Yadnya dalam kehidupan sehari-hari:
a.        Berpamitan kepada orangtua kita sebelum berangkat kemanapun,
b.        Menghormati orangtua dan melaksanakan perintahnya,
c.        Menuruti nasehat orangtua,
d.       Membantu dengan suka rela pekerjaan yang sedang dilakukan oleh orangtua,
e.        Merawat orangtua yang sedang sakit, dll

2.            Contoh-contoh pelaksanaan Rsi Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a.       Rajin belajar,
b.      Belajar yang tekun,
c.       Menghormati Guru,
d.      Menuruti peritah guru,
e.       Mentaati dan mengamalkan ajarannya,
f.       Memelihara kesehatan dan kesejahteraan orang suci seperti sulinggih, pemangku, dll.

4. Contoh-contoh pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:
a.       Tolong menolong antar sesama,
b.      Belas kasihan  terhadap orang yang menderita,
c.       Saling menghormati dan menghargai sesama,
d.      Rajin merawat diri,
e.       Melaksanakan upacara untuk meningkatkan kesucian diri, seperti; metatah, mewinten, meotonan, dll.

5. Contoh-contoh pelaksanaan Bhuta yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a.       Merawat dan memelihara tumbuh-tumbuhan dengan baik,
b.      Merawat binatang peliharaan dengan baik,
c.       Menjaga kebersihan lingkungan,
d.      Menyayangi makhluk lain, dll.




PELAJARAN EMPAT

CATUR GURU

Arti Catur Guru dan bagian-bagiannya
Arti Catur Guru
Catur Guru berasal dari Bahasa Sanskerta dari kata Catur yang sama artinya dengan kata Catus dan Cadhu yang berarti empat. Sedangkan  kata Guru berasal dari dua suku kata Sanskerta yaitu Gu dan Ru yang merupakan kependekan  dari kata Gunatitha yang berarti tidak terbelenggu oleh materi. Ru kependekan dari kata Rupavarjitha yang artinya mampu mengubah (menyebrangkan) orang lain dari lautan sengsara ( Menurut Satguru Sathya Narayana). Guru juga berarti orang yang digugu dan ditiru ( Menurut Ki Hajar Dewantara ).
Jadi Catur Guru berarti empat Guru yang harus dihormati di dalam mencari kesucian serta keutamaan hidup.

Bagian-bagian Catur Guru
Yang termasuk dalam bagian-bagian Catur Guru, adalah:
a.             Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orangtua kita,
b.            Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah,
c.             Guru Wisesa adalah pemerintah,
d.            Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi.

A.     Guru Rupaka adalah orangtua kita. Disebut guru Rupaka karena Beliau yang ngerupaka atau ngereka dari tidak ada menjadi ada. Orangtua kita sesungguhnya sangat besar jasanya bagi kita. Karena saking besarnya jasa orangtua rasanya seribu kali kelahiranpun belum bisa kita akan membayar hutang kepada orangtua.  Secara umum orangtua kita memiliki 5 jasa kepada kita yang disebut Panca Widha. Panca Widha adalah lima jasa orangtua yang terdiri dari:
1.            Ametwaken artinya berjasa telah melahirkan kita,
2.            Matulung Urip artinya orangtua kita berjasa telah menolong jiwa dari bahaya,
3.            Maweh Bhinojana artinya orangtua kita sudah berjasa karena telah memberi makan dan minum,
4.            Anyangaskara artinya orangtua kita telah berjasa dengan mengupacarai dengan upacara Manusa Yadnya, dan
5.            Mangupadhyaya artinya orangtua kita telah berjasa karena telah mendidik dan mengajar dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Sehingga orangtua kita adalah pendidik yang pertama dan utama.

B.     Guru Pengajian berarti guru yang telah memberikan pelajaran di sekolah. Yang termasuk Guru Pengajian adalah; Guru TK, Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, Dosen, Kepala Sekolah, Rektor. Guru Pengajian mengajari kita cara membaca, menulis, berhitung dan lain-lain.

C.     Guru Wisesa adalah Pemerintah. Disebut Guru Wisesa karena Guru itulah yang ngawisesa atau memerintah, melayani, menciptakan ketentraman dan kesejahteraan masyarakat. Yang termasuk dalam golongan Guru Wisesa, seperti:
a.       Polisi,
b.      Satpol PP,
c.       Angkatan Darat, angkatan Laut, Angkatan Udara,
d.      Kelian Banjar Dinas/Adat,
e.       Perbekel/Kepala Desa/Lurah,
f.       Camat,
g.      Bupati,
h.      Gubernur,
i.        Presiden,
j.        DPR,
k.      MPR,
l.        DPD,
m.    Para Menteri, dll

D.    Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi. Ida Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala isi dunia ini dengan penuh kasih sayang. Tuhan yang menciptakan keindahan alam, laut, sungai, gunung, bulan, bintang dan planet-planetnya.

Contoh-contoh Sikap Bhakti kepada Catur Guru
1.      Contoh-contoh sikap Bhakti kepada Guru Rupaka, seperti:
a.       Merapikan tempat tidur,
b.      Menyapu lantai dan halaman,
c.       Membantu Ibu mencuci piring,
d.      Berpakaian sendiri,
e.       Berpamitan kepada orangtua kita akan berangkat kemanapun,
f.       Menuruti perintah dan nasehat orangtua, dll

2.      Contoh-contoh sikap Bhakti kepada Guru Pengajian,  seperti:
a.       Belajar dengan tekun,
b.      Tidak menyia-nyiakan waktu,
c.       Patuh terhadap nasehat guru,
d.      Tidak melanggar perintah dan peraturan sekolah,

3.      Contoh-contoh sikap Bhakti kepada Guru Wisesa, seperti:
a.       Rela berkorban demi kepentingan Negara,
b.      Taat membayar pajak,
c.       Menghormati jasa-jasa pahlawan,
d.      Tidak korupsi,
e.       Mematuhi peraturan lalu lintas, dll

4.      Contoh-contoh sikap Bhakti kepada Guru Dwadhyaya, seperti:
a.       Melaksanakan Puja Tri Sandhya dengan tertib dan benar,
b.      Rajin berdoa,
c.       Rajin melaksanakan Japa,
d.      Meyakini keberadaan Ida Sang Hyang Widhi, dll










PELAJARAN LIMA

ALAM SEMESTA
Unsur-unsur Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Unsur-unsur Bhuana Agung

Bhuana Agung disebut juga dengan Macrocosmos, jagat raya, alam semesta atau alam besar yang kita muliakan karena keluhuran dan kemampuannya memberikan kehidupan kepada semua makhluk tanpa henti-hentinya.
Terjadinya Bhuana Agung diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada waktu Sresti atau penciptaan, dan masa Sresti disebut Brahma Dewa yaitu siang hari Brahma. Dan segala yang diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi di Bhuana Agung ini akan kembali/lebur disebut dengan istilah Pralaya (kiamat), masa Pralaya disebut Brahma Nakta atau malam hari Brahman.
Satu lingkar dari Pencitaan (Utpti), pemeliharaan ( Sthiti) dan Peleburan (Pralina) dari alam semesta atau Bhuana Agung disebut Akalpa yaitu sehari dan semalam Brahman disebut Brahman Kalpa.
Proses terciptanya Bhuana Agung diawali ketika dunia ini belum ada apa-apa, yang ada hanyalah Ida Sang Hyang Widhi dalam wujud Nirguna Brahman, artinya Tuhan dalam wujud sepi, kosong, sunyi dan hampa. Kemudian Ida Sang Hyang Widhi menjadikan dirinya sendiri menjadi Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah mulai beraktifitas. Selanjutnya Tuhan menciptakan dua unsur yaitu Purusa dan Prakerti atau unsur  Cetana dan Acetana.
Unsur Purusa atau Cetana adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan, sedangkan unsur Prakerti atau Acetana adalah unsur dasar yang bersifat kebendaan. Unsur Prakerti memiliki Tiga Guna yang disebut Tri Guna, yang terdiri dari:
a.       Satwam yaitu sifat dasar terang, bijaksana,
b.      Rajas adalah sifat dasar aktif, dinamis dan rajin,
c.       Tamas adalah sifat dasar berat, malas dan lamban.
Dengan adanya Tri Guna pada Bhuana Agung yang didominasi oleh unsur Sattwam menyebabkan lahirnya Mahat yang berarti Maha Agung.
Dengan adanya Mahat di Bhuana  Agung melahirkan Budhi yaitu benih kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Budhi melahirkan Ahamkara yaitu asas individu, ego, yang berfungsi untuk merasakan. Selanjutnya Ahamkara melahirkan Manas yaitu alam pikiran yang  gunanya untuk berpikir.
Setelah lahirnya Manas lahirlah Panca Tan Matra yaitu lima benih unsur yang sangat halus, yang terdiri atas:
a.       Sabda Tan Matra; benih suara,
b.      Rupa Tan Matra; benih warna,
c.       Rasa Tan Matra; benih rasa,
d.      Gandha Tan Matra; benih bau,
e.       Sparsa Tan Matra; benih sentuhan/peraba.
 Dari Panca tan Matra berevolusi menjadi unsur dasar yang besar berjumlah lima unsur disebut Panca Maha Bhuta, yang terdiri dari:
a.             Pretiwi atau unsur padat yang timbul dari kelima unsur Tan Matra
b.            Apah atau unsur cair yang timbul dari Sabda, Rupa dan Rasa Tan Matra,
c.             Teja atau unsur panas ditimbulkan oleh Sabda dan Rupa Tan Matra,
d.            Bayu atau hawa ditimbulkan oleh Sabda dan Sparsa Tan Matra,
e.             Akasa/Ether ditimbulkan oleh unsur Sabda dan Sparsa Tan Matra.
Dengan munculnya Panca Maha Bhuta berkembanglah menjadi Bhuana Agung dengan segala isinya seperti; matahari, bumi, bulan, planet-planet yang ada di jagat raya ini. Sehingga Dunia ini adalah Brahmanda atau telurnya Ida Sang Hyang 

Unsur - Unsur Bhuana  Alit 

Bhuana alit berarti alam kecil atau dunia kecil. Yang termasuk Bhuana Alit adalah tubuh manusia, hewan dan tumbuhan. Manusia merupakan bentuk dari Bhuana Alit adalah makhluk yang tertinggi karena manusia memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah memiliki Tri Premana, yaitu:
a.       Bayu; tenaga,
b.      Sabda; suara
c.       Idep; pikiran /akal.
Bhuana Alit atau tubuh manusia, tumbuhan dan binatang terbentuk sama seperti Bhuana Agung yaitu pertemuan antara Purusa dengan Prakerti atau Cetana dengan Acetana. Unsur Purusa atau Cetana akan membentuk Jiwatman, sedangkan unsur Prakerti atau Acetana akan membentuk badan manusia.
Dalam Jiwa dan badan manusia terdapat alat batin manusia yang menentukan watak atau karakter seseorang. Tiga alat batin itu bernama Tri Antah Karana yang terdiri atas:
a.       Budhi berfungsi untuk menentukan keputusan,
b.      Manas berfungsi untuk berpikir, dan
c.       Ahamkara fungsinya untuk merasakan dan bertindak.
Setelah bertemunya Purusa dengan Prakerti ditambah denga Tri Antah Karana, disusul pula dengan masuknya unsur Panca Tan Matra yang akan menjadi Indria penilai yang disebut Panca Bhudindria, yaitu:
a.       Sabda Tan Matra menjadi Srotendria yaitu indria yang terletak di telinga,
b.      Sparsa Tan Matra menjadi Twak indria yaitu indria yang terletak di kulit,
c.       Rupa Tan Matra menjadi Caksu indria yaitu indria yang terletak di mata,
d.      Rasa Tan Matra menjadi Jihwendria yaitu indria yang terletak pada lidah, dan
e.       Gandha Tan Matra menjadi Ghranendria yaitu indria yang terletak di kulit.
Selanjutnya Panca Tan Matra berkembang menjadi Panca Maha Bhuta sehingga menjadi unsur pembentuk tubuh atau jasmani manusia, dengan rincian sebagai berikut:
a.       Pertiwi menjadi segala yang bersifat padat dalam tubuh manusia seperti: tulang, otot, daging, kuku dan sebagainya,
b.      Apah menjadi segala yang cair pada tubuh manusia, seperti: keringat, darah, lendir, air kencing, air liur, ludah,dll
c.       Teja menjadi panas/suhu dalam tubuh,
d.      Bayu akan menjadi udara dalam badan yang disebut Prana seperti pernafasan, dan
e.       Akasa akan menjadi rongga-rongga dalam tubuh manusia, seperti: rongga mulut, rongga hidung, rongga dada dan rongga perut
Persamaan dan Perbedaan Bhuana Agung dan Bhuana Alit
Pada hakekatnya antara Bhuana Agung dengan  Bhuana Alit adalah sama, namun setelah menjadi bentuk, fungsi dan pengaruhnya pada kedua alam tersebut ia memiliki perbedaan-perbedaan.

Persamaan Bhuana Agung dengan Bhuana Alit
Dalam proses pembentukannya adalah sama yaitu melalui proses bertingkat yaitu; 1) Ida Sang Hyang Widhi, 2). Purusa, 3). Prakerti, 4). Budhi, 5). Ahamkara, 6). Sabda, 7). Sparsa,  8). Rupa,  9). Rasa, 10). Gandha,  11). Manah,  12). Akasa,  13). Bayu,  14). Teja,  15). Apah, dan 19). Pertiwi.
Karena proses terjadinya sama maka unsur-unsur dasar tersebut ada pada Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini disajikan persamaan Bhuana Agung dengan Bhuana Alit dalam bentuk tabel, sebagai berikut:

No
Unsur dasar
Bhuana Agung
Bhuana Alit
1
Pertiwi/unsur padat
ada
ada
2
Apah/unsur cair
ada
ada
3
Teja/unsure panas
ada
ada
4
Bayu/udara
ada
ada
5
Akasa/ether/kosong
ada
ada
6
Gandha/bau
ada
ada
7
Rasa/rasa
ada
ada
8
Rupa/bentuk
ada
ada
9
Sparsa/sentuhan
ada
ada
10
Sabda/suara
ada
ada
11
Purusa
ada
ada


Perbedaan Bhuana Agung dengan Bhuana Alit
Perbedaan antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit terletak pada fungsinya atau kegunaannya.
Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel di bawah ini:
NO
UNSUR DASAR
BHUANA AGUNG
BHUANA ALIT

PERBEDAAN
1

Pertiwi

Berwujud Tanah, dan bebatuan, logam,dll
Berwujud tulang, daging, otot
2
Apah
Berwujud air
Berwujud darah, air liur, air kencing, enzim, keringat,dll


3
Teja
Berwujud api, sinar matahari, panas bumi
Berwujud suhu tubuh
4
Bayu
Berbentuk angin, udara, gas
Berwujud Prana dan Nafas
5
Akasa
Berwujud luar angkasa
Berwujud rongga tubuh

6
Gandha
Berwujud bau

Berwujud indra pencium
7
Rupa
Berwujud warna, bayangan, bentuk
Berwujud indra penglihatan
8
Rasa
Berwujud rasa
Berwujud Indra Pengecap
9

Sparsa
Berwujud sentuhan
Berwujud indra Perasa
10
Sabda
Berwujud suara
Berwujud indra pendengar
11
Prakerti
-
Didukung oleh 5 indra pekerja/Panca Karmendria
12
Manah
-
Berwujud akal pikiran
13
Ahamkara
-
Berwujud perabaan sifat antara benda satu dengan yang lain berwujud sifat ego
14
Budhi
Berwujud Rta
Berwujud kebijaksanaan
15
Purusa
Berwujud jiwa alam yang absolut
Berwujud jiwatma

Peranan dan fungsi Panca Maha Bhuta dalam pembentukan serta kehidupan Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Panca Maha Bhuta mempunyai peran yang penting dalam pembentukan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, karena proses pembentukannya menimbulkan Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta sehingga terciptalah Bhuana Agung dan Bhuana Alit dengan sifat-sifat atau keadaan yang sama.
Adapun Peranan dan Fungsi Panca Maha Bhuta adalah:
a.             Segala yang padat pada Bhuana Agung dan Bhuana Alit terjadi dari Pertiwi. Di Bhuana Agung menjadi tanah sebagai tempat makhluk hidup sedangkan di Bhuana Alit menjadi tulang sebagai rangka dan sebagai pelindung organ-organ tubuh yang penting,
b.            Segala yang cair pada Bhuana Agung dan Bhuana Alit tercipta dari Apah. Di Bhuana Agung menjadi air, sebagai sumber kehidupan makhluk hidup, sedangkan di Bhuana Alit menjadi darah yang berfungsi membawa sari-sari makanan ke seluruh tubuh,
c.             Segala yang kosong pada alam dan ronga-rongga pada tubuh manusia terjadi dari unsur Akasa. Di Bhuana Agung menjadi ruang angkasa sebagai tempat planet-planet beredar, sedangkan di Bhuana Alit menjadi rongga-rongga yang berfungsi untuk keluar masuknya udara, seperti rongga hidung
d.            Segala angin, hawa dan gas pada alam semesta di Bhuana Agung menjadi udara yang sangat diperlukan oleh setiap makhluk untuk pernafasan, sedangkan di Bhuana Alit menjadi nafas dan akan mati bila tidak bernafas,
Segala yang becahaya dan panas pada Bhuana Agung dan Bhuana Alit terjadi dari Teja. Di Bhuana Agung menjadi panas/sinar matahari yang sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk.




Posting Komentar